malam ini, nggak ada bintang dan bulan, bisa dipastikan hujan karena sepanjang hari udara sangat panas tapi tidak juga kunjung hujan, bukan menjadi suatu kekhawatiran bila saat ini aku ada dirumah ataupun tempat yang terlindung, saat itu ketika aku menuliskan jurnalku aku ada di hutan…
dilereng ini bila melihat kebawah nampak indah warna-warni lampu kota, pemandangan hiruk pikuk, sesak dan penat itu berubah menjadi titik-titik berwarna, seperti lampu flip-flop yang banyak dijual dipinggiran jalan.
hutan…
disini udara begitu dingin, angin yang beku seakan menembus sweater merahku, dan suara pohon yang bergesekan dengan angin seperti musik aneh yang agak seram, menyebabkan aku merasa kecil didalam genggaman kuasa alam.
“tapi hutan ini berbeda dengan 30 tahun yang lalu”, suara ayahku yang memecah kesunyian, “dahulu jalan setapak ini nggak ada, apalagi ada warung-warung 24 jam seperti yang ada dibawah tadi”, lanjutnya…
saat itu aku ada urutan nomor dua dari depan rombongan yang akan menuju lokasi kemping, dibelakangku ada 5 orang lagi, dan itu termasuk si kecil 2.5 tahun yang digendong oleh ayahku,
yang bikin lega, sekaligus heran adalah ketika melihat sekelilingku tiap 100 meter ada bangunan kecil yang merupakan kamar mandi, sehingga kekhawatiranku tentang “panggilan alam” menjadi hilang…
sesampainya dilokasi nampak ada 3 sampai 4 tenda besar dan beberapa tenda kecil, pemanduku berkata, ini lokasi favorit mbak, tadi kalau telat sedikit saja nggak dapet tempat ini, selain lebih dekat kalau mau kebawah lokasinya juga flat, jadi gampang buat ndiriin tenda-tenda besar macem gini…
sesampainya ditenda beberapa anak perempuan mengobrol denganku, dan menawariku kalau mau bareng ke kamar mandi, “biasa tuh dari tadi yang cewek-cewek pada bolak-balik kekamar mandi” celetuk salah seorang anak laki-laki, walaupun bukan keadaan “darurat” aku mengiyakan,itung-itung buat mengakrabkan diri, pikirku…
suasana ini sekejab mengingatkan aku, ketika aku pertama kali mendaki gunung, dan asosiasiku dengan gunung adalah minyak tanah…????
9 tahun yang lalu…
kala itu umurku 16 tahun, aku pergi bersama 18 orang temanku, dan hanya 2 yang setidaknya “pernah” mendaki gunung walaupun hanya sekali… dan waktu itu aku pergi tanpa ijin kedua orang tuaku, karena dipastikan kalau minta ijin pasti akan ditolak habis
waktu itu karena hawa yang tiba-tiba menjadi dingin menusuk, kami harus bersusah payah membuat api unggun, dan nggak bakalan berhasil, karena yang berusaha kami bakar adalah kayu dan ranting-ranting lembab, yg gak bakalan terbakar sampai kapanpun akhirnya dengan terpaksa kami membakar beberapa barang yang flamable such as kertas tissue bungkus permen,kami melihat sekeliling kok pada sukses buat api unggun…sampai akhirnya ada beberapa pendaki yang menyadari keamatiran kami dan berbaik hati memberikan kami sesuatu yang benar2 kami perlukan, dan yang sebelumnya luput dari perkiraan…apakah itu??ternyata minyak tanah…
“lain kali aku nggak akan lupa dengan minyak tanah”, janjiku…
oleh karena itu disetiap pendakian atau sesuatu yang mengingatkanku pada alam liar selalu membawa ingatanku pada minyak tanah…memang pada dasarnya sepele, tapi saat itu kami merasa benar-benar @#@$#!$#???
saat menonton tom hanks yang bermain total dalam cast-away aku juga bisa merasakan penderitaannya, saat dia berusaha membuat api ala nenek moyang, dan tanpa bantuan minyak tanah… alangkah menderitanya…(lebih menderita daripada saat dia sakit gigi, menurutku sih :p )
dan sekarang sembilan tahun dari pengalaman pertamaku dengan gunung, didepanku ada api unggun besar yang menghangatkan walapun lidah apinya bergerak agresif kesana kemari akibat hembusan angin dingin dan kencang…
malam itu aku bersyukur tidak turun hujan dan dapat menikmati api unggun, dan betapa leganya melihat persediaan tiga dirigen minyak tanah masih terisi penuh…